Saturday, November 26, 2016

07. Ngantuk??? ...eiits ntar dulu....

Bila badan sangat lelah, kadang kita tidak sempat memikirkan apapun; bawaannya langsung tidur Bro...

Apakah mungkin, selelah-lelahnya badan ini, kita sejenak berpikir / mengingat / merenungkan satu hal penting yang menjadi tujuan (hidup) kita?

Kata rekan saya, Bp. Mokhamad Mahdum, kalau ada pertanyaan dengan kata-kata mungkin, jawabannya pasti mungkin (besaran kemungkinan/probability adalah dari 0-1); tergantung dari bagaimana metode yang kita miliki, agar kemungkinannya bisa mendekati 1.

Artinya, selelah-lelahnya badan ini, adalah mungkin bagi kita untuk "sempat" memikirkan hal penting (tujuan hidup kita), sebelum tidur.


Mengapa kita perlu memikirkan hal penting (tujuan hidup), sebelum tidur?

Dalam Bahasa Hindi, sangat terkenal slogan:
अपने अंतिम विचारों को अपने गंतव्य के लिए आप का नेतृत्व करेंगे
Artinya: "buah pikiran Anda yang terakhir, akan membawa Anda kepada Tujuan Anda"

Maksud dari kata-kata, "buah pikiran yang terakhir", sebenarnya adalah dalam konteks "pikiran terakhir yang kita miliki, sebelum kita meninggal (meninggalkan badan)"

Wauw.. ini cocok sekali dengan teori yang menyatakan bahwa kita bisa mencapai tujuan apapun dengan kekuatan pikiran (the power of thought).

Nahhh... sebelum terjadi peristiwa meninggalkan badan yang sesungguhnya, bagaimana kalau kita berusaha latihan dulu; yaitu pada saat menjelang tidur.

Latihan membuat kita biasa... tidak ada keterampilan/kemahiran, yang tanpa latihan...
Setelah mengingat hal penting (tujuan hidup kita) sebelum tidur...
barulah tidur dengan nyenyak,

Selamat Tidur...
(lho... pagi-pagi... kok Selamat Tidur?!:-)

Friday, November 25, 2016

07. Mengingat butuh Usaha; Menyelam apalagi....

Salah satu cara agar sikap/perilaku kita menjadi lebih manis, adalah dengan MENGINGAT pesan-pesan Orang Tua / Guru kita. Oleh karena itu, kemampuan kita dalam mengingat (baik/tidaknya ingatan kita), boleh jadi diukur dari sikap/perilaku kita :-) --> hehehe... sekadar hipotesis...

Menurut hemat saya, setiap Orang Tua / Guru selalu saja memberikan pesan: terus ber-USAHA ya nak...


USAHA membuat seseorang mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Tidak akan pernah ada perubahan tanpa usaha. Kalau pun ada, mungkin perubahan tersebut akibat usaha yang pernah dilakukan di masa lalu.

Usaha yang dimaksud adalah usaha untuk menyelami pengetahuan (ilahi). Pengetahuan (ilahi) membuat seseorang berubah ke arah yang lebih baik atau menjadi memiliki karakter yang baik. Kalau kita belum memiliki karakter yang baik, mungkin kita masih berada di pinggir kolam, belum MENYELAM :-)

Thursday, May 5, 2016

08. Pengusaha Tambang Emas

Ayah saya bercerita: bahwa konon jaman dahulu kala (sekitar 5000 tahun yang lalu), ada sebuah kerajaan (Kerajaan X) yang damai, tentram, sejahtera, gemah ripah lohjinawi. Masyarakatnya hidup tanpa kesusahan, tanpa keluhan, tanpa prasangka, tanpa emosi negatif, dll. Pokoknya tanpa hal-hal yang negatif... hehehe...

Kata Ayah saya, kerajaan tersebut dibangun bukan atas dasar kekuatan/kekerasan fisik. Tetapi dibangun atas dasar kekuatan mental (kekuatan non-fisik). Apa yang dimaksud dengan kekuatan mental (kekuatan non-fisik)?

Kekuatan mental adalah kondisi pikiran untuk mampu terhubung/ terkoneksi dengan sang Sumber. Sumber apa? Sumber dari pengetahuan, sumber dari keterampilan berpikir kreatif, sumber dari keyakinan, sumber dari rasa percaya diri, sumber dari keterampilan mengerjakan suatu tugas, sumber dari rasa bahagia, sumber dari kesediaan bertoleransi, dll.). Dengan kata lain, kekuatan mental adalah kemampuan kita untuk mendapatkan/menggali hal-hal berharga yang bersifat non-fisik dari sang Sumber yang abadi. Hal-hal yang berharga tersebut lalu diolah dan didonasikan kepada jiwa lain.

Ibarat perusahaan emas, kekuatan mental adalah kemampuan perusahaan untuk mendapatkan/menggali emas (sumber / resource) di lokasi tambang emas. Emas yang berhasil didapatkan tersebut kemudian diolah sedemikian rupa hingga siap dijual/ditukar untuk kemanfaatan lebih lanjut.

Saya bertanya kembali kepada Ayah, jadi siapa sebenarnya yang mendirikan Kerajaan X tersebut, Yah? Ayah kembali menjawab, bahwa Kerajaan X tersebut didirikan oleh sebuah Keluarga yang konon sangat rajin berlatih hingga mereka memiliki kekuatan mental terhubung / terkoneksi dengan sang Sumber.

Baiklah Ayah... saya mengerti... kalau begitu, jika ada sebuah Keluarga yang rajin berlatih menghubungkan diri dengan sang Sumber, Kelurga tersebut akan memiliki kekuatan mental; isi pikiran para anggota keluarga akan dipenuhi dengan hal-hal yang berharga (bagaikan emas yang siap untuk diolah lebih lanjut), dan siap-siap sejarah Kerajaan X tersebut akan kembali terulang...

Terima kasih Ayah sudah menceritakan dongeng pengantar tidur...

Monday, November 2, 2015

09. Berangkat Pagi, Pulang Malam... Pantang Pulang sebelum Tinggalkan Beban

Sebuah kalimat yang tidak lengkap, pernah disampaikan oleh orang tua kepada kami anak-anak, “Nak, pada saat awal kita berangkat dari rumah, sebaiknya kita TIDAK membawa ...; demikian pula pada saat akhir kita harus pulang ke rumah, kita juga TIDAK (boleh) membawa .... “

Ketika adik saya bercerita kepada teman-temannya mengenai kalimat yang tidak lengkap tersebut, teman-teman adik saya sedikit bingung... “maksudmu opo toh Bro? mbo’ ya kalau cerita itu yang konkret-konkret wae Bro...”

Supaya kalimat tersebut bisa dipahami, kami mendiskusikan lebih lanjut. Di saat asyik berdiskusi, adik saya berkata, “Bro.., mungkin perlu ada tambahan dua kata ya; yaitu di antara kalimat orang tua kita, perlu tambahan kata, misalnya kata ‘BEBAN’ atau kata ‘MASALAH’”; sehingga kalimatnya menjadi seperti:

  • Kata “BEBAN”. Kalimatnya menjadi: “Pada saat awal kita berangkat dari rumah, sebaiknya kita tidak membawa BEBAN apapun; demikian pula pada saat akhir, kita harus pulang ke rumah, kita tidak (boleh) membawa BEBAN apapun”;
  • Kata “MASALAH”. Kalimatnya menjadi: “Pada saat awal kita berangkat dari rumah, sebaiknya kita tidak membawa MASALAH apapun; demikian pula pada saat akhir, kita harus pulang ke rumah, kita tidak (boleh) membawa MASALAH apapun."

Dengan penambahan dua kata tersebut, adik saya langsung berniat sharing kembali kepada teman-temannya: “Bro.., saya akan ceritakan kembali ke teman-teman, Bro... mudah-mudahan akan lebih clear”  :-)

Setelah adik saya menceritakan penambahan kedua kata tersebut... teman-temannya kemudian bertanya lebih lanjut: “lalu... apa yang boleh kita bawa saat kita ‘berangkat dari’ dan saat kita ‘pulang menuju’ rumah, Bro?”

Adik saya dan teman-temannya kemudian berdiskusi kembali sekitar 12 menit. 
Berdasarkan diskusi, setidaknya ada empat point yang mereka catat, sehubungan dengan pertanyaan "apa yang boleh kita bawa saat kita ‘berangkat dari’ dan saat kita ’pulang menuju’ rumah?"  
Mereka sepakat bahwa yang boleh dibawa, saat ‘berangkat dari’ dan saat ’pulang menuju’ rumah, adalah NILAI, khususnya NILAI nomor 01, 04, 09, dan 12”.

  • Nilai nomor 01 adalah nilai Kehormatan (Respect); berangkatlah dengan membawa berbagai peralatan (keistimewaan/kehormatan) mu; dan pulanglah dengan kepastian bahwa kehormatanmu tetap terjaga;  
  • Nilai nomor 04 adalah nilai Keceriaan (Happiness); berangkatlah dengan membawa keranjang yang berisi buah keceriaan; dan pulanglah dengan keranjang yang tetap berisi buah keceriaan. (jangan khawatir bahwa buah keceriaan di dalam keranjang akan habis... keceriaan adalah buah yang ajaib bersifat anomali... semakin buah keceriaan dibagikan kepada lingkungan sekitar, semakin buah keceriaan tersebut bertambah jumlahnya);
  • Nilai nomor 09 adalah nilai Kebersihan/Kesucian/Kejujuran (Honesty); berangkatlah dengan menggunakan pakaian (hati/pikiran/jasmani) yang bersih/suci; dan pulanglah juga dengan pakaian (hati/pikiran/jasmani) yang tetap bersih/suci;
  • Nilai nomor 12 adalah nilai Kesejukan/Ketenangan/Kedamaian (Peace); berangkatlah dengan kata-kata, pandangan mata, dan sikap yang membuat orang rumah merasa tenang/damai; dan pulanglah juga dengan kata-kata, pandangan mata, dan sikap yang membuat seisi rumah merasa tenang/damai.

Jadi Bro... buat kita refleksikan bersama, saat “berangkat dari” dan “pulang ke” rumah, ada hal-hal yang TIDAK Boleh kita bawa; dan ada hal-hal yang Boleh, atau bahkan justru Harus kita bawa.

ok Bro... selalu siapkan diri untuk seketika berpulang / pulang ke rumah ya...

Sunday, April 5, 2015

02. Berkorban = Sangat Beruntung; Menjadi Korban = ?

Orang tua saya berkata:, "Berbagai peristiwa, khususnya peristiwa baik yang telah kita alami, berhubungan dengan satu kata, yaitu: 'Pengorbanan' atau 'Berkorban'"

Menurut orang tua saya, pengorbanan atau berkorban adalah usaha memberikan tiga hal-baik kepada pihak lain, yaitu:(a) buah pikiran yang baik, atau memberikan buah pikiran (good wishes); (b) kata-kata yang baik, atau bertutur kata secara benar, jujur, namun tetap santun; dan (c) perbuatan (action) yang positif, atau melakukan perbuatan yang mendukung perbaikan lingkungan menjadi lebih baik.

Kata "Pengorbanan" yang diucapkan oleh orang tua saya, terus terang membuat saya begadang... saya memikirkan kata tersebut hingga larut malam. Kata "Pengorbanan" menimbulkan pertanyaan di benak saya: “Apakah ada hal-hal yang masih bisa kita korbankan, selain tiga hal di atas (buah pikiran yang baik, kata-kata yang baik, dan perbuatan yang positif)?”

Apakah waktu, uang, darah, jiwa-raga, dsb., juga dapat kita korbankan?

Pertanyaan lebih lanjut yang muncul adalah,
  • apakah hal-hal tersebut (waktu, uang, darah, jiwa-raga) perlu kita korbankan juga? 
  • apakah hal-hal tersebut adalah sesuatu yang baik (+) atau sesuatu yang buruk (-) untuk dikorbankan? 
Misalnya... “mengorbankan waktu tidur”;  apakah “mengorbankan waktu tidur” adalah sesuatu yang baik (+); atau adalah sesuatu yang buruk (-)?

Di sela-sela waktu begadang, diskusi bersama mama Ayu sepertinya cukup menarik dan membawa inspirasi.

Hasil diskusi dengan mama Ayu, menghasilkan dua point pemikiran, yaitu:
  1. Nilai positive atau negative dari suatu pengorbanan, BUKAN pada hal (materi) yang kita korbankan; hal / materi apapun yang kita korbankan, bisa memiliki nilai positive, atau bisa juga memiliki nilai negative.
  2. Nilai positive atau negative dari suatu pengorbanan, terletak pada dua hal, yaitu: (a) Tujuan/Target Pengorbanan dan (b) Intensi/Niat Pengorbanan. Gambaran lebih lanjut kedua hal tersebut, dapat dilihat pada tabel di berikut ini.

Hal yang Membedakan
Materi / Hal
yang Dikorbankan
Nilai Pengorbanan
Negative
Nilai Pengorbanan
Positive
Tujuan Pengorbanan
misalnya:


Waktu Tidur


Jiwa-Raga
untuk Diri Pribadi


Mengorbankan Waktu Tidur
demi Kesenangan Pribadi

Mengorbankan Jiwa-Raga
demi Keuntungan Pribadi /
demi Kesenangan yang Dijanjikan 
Bukan untuk Diri Pribadi/
untuk Menegakkan Nilai

Mengorbankan Waktu Tidur
demi Tanggung Jawab

Mengorbankan Jiwa-Raga
sebagai Wujud Cinta-Kasih 
/ demi Kejujuran-Kebenaran
Intensi Pengorbanan
misalnya:

Uang

Darah
Tidak Disengaja

Tidak Sengaja Kecopetan Uang

Kecelakaan Lalu Lintas,
sehingga terjadi Pendarahan 
Disengaja

Sengaja Mendonasikan Uang

Sengaja Turut Serta 
dalam Aksi Donor Darah

Mungkin ada banyak hal lain yang membedakan nilai positive atau negative dari suatu pengorbanan... Namun mohon maaf... saya sudah mengantuk, Bro... hehehe...mengorbankan waktu begadang :-)

Prinsipnya, lebih baik saya mengorbankan waktu begadang malam ini, supaya bisa bangun pagi esok hari... demi menegakkan nilai... setidaknya nilai responsibility :-)

Sebagai penutup, satu hal lagi yang saya ingat dari orang tua saya, yaitu: “melalui pengorbanan, sense (points of knowledge atau kebijaksanaan) dapat berubah menjadi essence (embodiment of power atau perwujudan sebagai sosok yang bijaksana).

Saturday, May 17, 2014

03 & 09. Kedokteran Jiwa, Super Spesialis Bedah-Pikiran (Sp. KJ, Sp. BP)

Tahap awal untuk meningkatkan kemampuan konsentrasi adalah menyadari dan mengenali hal yang menyebabkan kita tidak dapat berkonsentrasi.
Tidak berkonsentrasi adalah kondisi pada saat kita memikirkan hal yang tidak seharusnya kita pikirkan. Misalnya memikirkan apa?
Berdasarkan diskusi dengan Ayah saya, hal yang paling sering kira pikirkan, namun seharusnya tidak kita pikirkan, misalnya memikirkan nama dan bentuk (dari sosok tertentu).
Jadi... tidak boleh memikirkan nama dan bentuk dari sosok tertentu ya?
Boleh saja... asal... dilakukan pada saat kita sedang belajar mengenai tokoh sejarah... apalagi kalau besok ujian / ulangan / kuis... hehehe...
nah... kalau memikirkan nama dan bentuk (dari sosok tertentu), selain untuk kegiatan belajar mengenai tokoh sejarah, bagaimana?
Boleh sih, tapi... siap-siap konsentrasi kita terhadap materi pelajaran / pekerjaan akan menurun... (apalagi kalau nama dan bentuk dari sosok tersebut, bukan bagian pokok dari materi pelajaran / pekerjaan)
Kata Ayah saya (yang berprofesi sebagai Dokter Ahli Bedah-Pikiran), kondisi terlalu sering memikirkan nama dan bentuk (dari sosok tertentu), adalah suatu jenis penyakit (kelompok jenis penyakit tersebut mohon bantuan dicek di kamus Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, sudah ada atau belum nama diagnosisnya....; kalau belum ada, nanti boleh kita usulkan...). 

Sadar atau tidak sadar, mau atau tidak mau, ingatan terhadap nama dan bentuk, merupakan kondisi yang cukup banyak mengambil (menyedot) porsi energi pikiran. Ingatan terhadap nama dan bentuk dapat diibaratkan seperti penyakit kanker...
Menurut Beliau, cara mengobati penyakit ini adalah dengan mengutarakan kepada-Nya, tentang nama dan bentuk tersebut, setelah kita menyadarinya sebagai penyebab gangguan konsentrasi.
Dengan mengutarakan kepada-Nya, dan menyatakan bahwa kita ingin penyakit ini sembuh/hilang, dan yang ada hanyalah pikiran yang sangat bersih, jernih, dan berguna, Beliau secara profesional akan membedah dan mengangkat penyakit tersebut dari pikiran kita. Wauww... bagaimana mekanismenya ya... PR bagi ilmuwan psikologi untuk menjelaskan cara kerja sang Dokter Ahli Bedah-Pikiran secara teoretis, serta merancang metode eksperimen untuk membuktikannya secara empiris...
Pasca operasi, Ayah sebagai sang Dokter Ahli Bedah-Pikiran selalu berpesan kepada para pasien-Nya: “Ibu/Bapak/Sdr./Anak-anak yang termanis, setelah Saya angkat penyakit ini, mohon menjaga pikiran lho ya... pikir-kan hanya hal-hal yang bersih saja, jangan pikir-kan nama dan bentuk lagi... kecuali sedang menghadapi ujian / ulangan / kuis sejarah, supaya bisa dapet 95, 99, atau 100...
Lalu pasien-Nya menjawab: “Iya Dok...Terima kasih banyak Dok... Nanti kalau saya sakit lagi, mohon jangan bosen ya Dok
Lhoo... belum pulang dari Dokter, si pasien kok malah sudah ada rencana sakit lagi... :-)

Saturday, May 10, 2014

03. Sisi Positif si Pengemis

Arti Pengemis dalam tulisan ini adalah jiwa yang hanya mengingat satu hal, yaitu hanya mengingat berkah dari yang Dimuliakan. Dengan mengingat-Nya, pengemis menerima berkah pengetahuan, kebenaran, dan kekuatan toleransi.

Berkah-berkah tersebut akan membebaskan sang pengemis dari ketakutan, kebencian, dan kemarahan yang terus-menerus mencoba datang kepadanya J

Pengemis yang memiliki dedikasi tinggi terhadap “kepengemisannya”, akan meneruskan berkah pengetahuan, kebenaran, dan kekuatan toleransi yang dimilikinya kepada pengemis lain.

Pengemis yang penuh dengan pengetahuan dan sikap toleransi, akan memberikan pelayanan kepada pengemis lain agar pengemis lain menjadi setara dengan yang Dimuliakan :-)