Pagi ini, ada satu pesan Ayah yang akan saya ingat-ingat, yaitu tentang bagaimana kita memandang kelemahan/kekurangan orang lain. Ayah pernah berpesan, “Janganlah melihat sifat / sanskar orang lain, tetapi sebaliknya berikanlah kerja sama yang lebih kepadanya. Milikilah harapan yang baik dan perasaan yang suci.”
Pelan-pelan ya Bro./Sis., pesan tersebut bukan berarti kita harus menutup mata terhadap kekurangan, kesalahan, atau perilaku yang perlu diperbaiki. Kita tetap dapat melihat bahwa orang lain sedang marah, sulit bekerja sama, kurang disiplin, mudah tersinggung, atau memiliki sanskar tertentu yang menimbulkan kesulitan. Namun, kita tidak berhenti pada apa yang terlihat tersebut.
Ayah saya mengajak putra-putrinya untuk bergerak dari menilai menuju memahami (understanding), kemudian dari understanding menuju memberi kerjasama (cooperation).
Ketika berhadapan dengan seseorang yang perilakunya menyulitkan, pikiran sering kali sangat cepat membuat penilaian. Kita mungkin berpikir, “Dia memang keras kepala,” “Dia selalu seperti itu,” “Dia sulit diajak bekerja sama,” atau “Sudah berkali-kali diberi tahu, tetapi tetap tidak berubah.”
Penilaian tersebut mungkin mengandung sebagian fakta, tetapi akan menjadi masalah ketika berubah menjadi label yang menetap. Setelah seseorang kita tempatkan dalam kategori tertentu, kita cenderung melakukan confirmation bias, kita cenderung melihat perilaku selanjutnya sebagai bukti tambahan bahwa penilaian kita memang benar.
Akibatnya, perhatian kita semakin tertuju pada kekurangannya, sementara kemungkinan untuk melihat kebutuhan, potensi, dan peluang perkembangannya semakin kecil. Di sinilah diperlukan perubahan pertanyaan dari “What is wrong with this person?” menjadi “What does this person need?”
Perubahan pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi mengubah arah consciousness kita:
01. Respect. Orang yang kehilangan semangat mungkin membutuhkan seseorang yang masih mampu melihat potensinya ketika ia sendiri sudah sulit melihatnya.
02. Love. Orang yang berulang kali melakukan kesalahan mungkin membutuhkan arahan yang lebih jelas atau pendampingan yang lebih terstruktur;
03. Humility. Seseorang yang defensif mungkin membutuhkan cara penyampaian yang tidak membuatnya merasa dipermalukan;
06. Cooperation. Seseorang yang baru bergabung mungkin membutuhkan rasa diterima sebagai bagian dari kelompok.
08. Unity. Orang yang kurang percaya diri mungkin membutuhkan dukungan (encouragement).
Dst.
Dengan demikian, tugas kita bukan hanya mengidentifikasi kelemahan,
tetapi juga mengidentifikasi kebutuhan yang berada di balik kelemahan/kekurangan tersebut. Prinsip sederhananya adalah: do not merely identify the
weakness; identify the need behind the weakness.
Menariknya, Ayah saya tidak hanya mengatakan give co-operation, tetapi “give extra co-operation instead.” Kata extra penting karena justru ketika seseorang menunjukkan kelemahan, kecenderungan manusia adalah mengurangi kesabaran, perhatian, atau kedekatan dengannya. Biasanya, kita lebih mudah bekerja sama dengan orang yang kompeten, ramah, cepat memahami, atau mempunyai sanskar yang cocok dengan kita.
Pesan Ayah menawarkan arah yang berbeda: kelemahan seseorang dapat menjadi alasan untuk memberikan cooperation yang lebih tepat dan yang lebih sadar, bukan alasan untuk segera menjauh atau menolak. Extra cooperation tidak berarti mengambil alih semua tanggung jawabnya atau membiarkan perilaku yang merugikan terus berlangsung.
Extra cooperation berarti memberikan apa yang sungguh-sungguh dapat membantu seseorang bergerak maju. Dasar dari extra cooperation adalah good wishes dan pure feelings.
Good wishes mengubah kualitas bantuan; kita tetap melihat kemungkinan perkembangan di dalam dirinya. Kita melihat kelemahannya, tetapi tidak mendefinisikan seluruh identitasnya berdasarkan kelemahan tersebut. Kita menjadi memapu membedakan antara seeing a weakness dan seeing a person as weak. Pada kondisi pertama (seeing a weakness), kita menggunakan discernment untuk mengenali aspek tertentu yang perlu dikembangkan. Pada kondisi kedua (seeing a person as weak), kita berisiko menjadikan kelemahan sebagai identitas orang tersebut. Dalam kitab suci agama, pernah diceritakan bahwa anak yang paling lemah tetap sangat dicintai dan justru memperoleh greater mercy: “even the last numbered child is very much loved, because he is weak. So, there is greater mercy for those who are weak.” Kelemahan orang lain sang jiwa, tidak mengurangi respect atau good wishes kita. Kita dapat melihat masalah secara realistis sekaligus tetap melihat potensi jiwa di balik masalah tersebut.
Di samping good wishes, dasar dari extra cooperation juga adalah pure feeling. Pure feelings mengajak kita memeriksa motivasi di balik bantuan yang kita berikan. Apakah kita membantu agar orang lain berutang budi, mengakui bahwa kita lebih mampu, atau supaya kita terlihat sebagai orang yang baik? Apakah kita membantu karena ingin mengontrol keputusan orang lain, atau karena benar-benar ingin melihatnya tumbuh? Dua tindakan yang tampak sama dari luar dapat berasal dari kualitas consciousness yang sangat berbeda. Pure feelings berarti bantuan diberikan demi benefit, bukan demi memperbesar ego pemberi.
Demikian Mas Bro. dan Mba' Sis., pesan Ayah yang akan saya ingat-ingat, setidaknya untuk hari ini. Terima kasih ya Bro. dan Sis. sudah membaca.... atau mungkin bermaksud ikutan mengingat-ingat pesan Ayah? 😍😇🙏🌹