Thursday, September 3, 2026

02. Kebaikan Tidak Perlu Dipadamkan, Hanya Perlu Diarahkan

Hasil ngobrol dengan Bro. Bastiyan, menghasilkan insight yang perlu dicatat. (siapa tahu nanti ada pertanyaan yang sama dari Bro./Sis. lainnya) 

Pertanyaannya Bro. Bastiyan adalah sbb.:

(1) ".... apakah pernah punya pengalaman ketika berbuat baik kepada orang lain, tapi kebaikan itu disalahpahami atau disalahgunakan?"; 

(2) "Lalu, ... bagaimana cara kita menyikapi?"

Nah lho... bingung juga menjawab pertanyaan nomor (1), saya lupa, apakah pernah mengalami situasi ketika niat baik disalahpahami atau disalahgunakan?; yang saya ingat, pokoknya berusaha berbuat baik.  

Untuk pertanyaan nomor (2), mungkin lebih mudah untuk dijawab dan dianalisis. Yuks, kita coba analisis, Bro

Nah... untuk menjawab pertanyaan Nomor 2, kita gunakan kode (1), (2), (3), dan (4) ya.

Berbuat baik (Kode 1); bagaimana respons orang lain terhadap kita (Kode 2); bagaimana kita menilai dan memaknai kejadian tersebut (Kode 3); emosi yang kita rasakan (Kode 4) adalah hasil dari penilaian/pemaknaan kita terhadap respons orang lain.


Keempat hal tersebut merupakan tahapan/proses yang berbeda. 

Kebaikan yang kita berikan (Kode 1) berada dalam wilayah nilai, niat, dan pilihan kita;

Respons orang lain (Kode 2) berada dalam wilayah pilihan dan kapasitas di luar diri kita; 

cara kita menilai kejadian (Kode 3) berada dalam wilayah pikiran dan kesadaran kita. 

Jadi, ketika kebaikan yang kita berikan (Kode 1) tidak dibalas, disalahpahami, atau bahkan disalahgunakan (Kode 2), kita tidak harus menilai/menyimpulkan (Kode 3) bahwa kebaikan kita (1) keliru.

Suatu kejadian atau respons orang lain terhadap perbuatan baik kita (Kode 2), tidak secara otomatis menentukan emosi kita (Kode 4); ada jembatan/penghubung di antara (Kode 2) dan (Kode 4), yaitu: bagaimana kita menilai dan memaknai kejadian tersebut (Kode 3). 

Emosi kita (Kode 4) tergantung pada bagaimana kita menilai/memaknai respons orang lain (Kode 3).

Misalnya, ketika seseorang menyalahgunakan kebaikan kita (Kode 2), kita dapat memaknainya sebagai “Saya bodoh karena sudah berbuat baik” (Kode 3a); atau secara lebih konstruktif sebagai “Niat baik saya tetap baik, tetapi pengalaman ini mengajarkan saya untuk memberikan kebaikan dengan batas dan kebijaksanaan yang lebih baik.” (Kode 3b).

Kejadiannya sama, tetapi pemaknaannya dapat membawa kita ke arah yang berbeda.

Karena itu, kebaikan (Kode 1) tidak perlu dihentikan hanya karena respons orang lain mengecewakan (Kode 2). 

Hal yang dapat dievaluasi dan dipertimbangkan adalah cara kita memberikan kebaikan pada kesempatan berikutnya (Kode ....5....). 

Kita tetap dapat mempertahankan niat baik, tetapi kita perlu memperhatikan: kapan (1a), seberapa banyak (1b), dan bagaimana (1c) kebaikan itu diberikan. 

Contoh (1a). Jika kita selalu tersedia setiap kali seseorang membutuhkan kita, tetapi orang tersebut kemudian menganggap waktu dan perhatian kita sebagai sesuatu yang dapat dituntut kapan saja, kita dapat mulai menetapkan batas: “Saya tetap mau membantu, tetapi tidak selalu bisa saat itu juga.” (1a)

Contoh (1b & 1c). Ketika seseorang berulang kali meminjam uang tetapi tidak bertanggung jawab mengembalikannya, kita tidak harus memilih antara “tetap memberi uang” dan “berhenti menjadi orang baik.” Kita dapat mengatakan dengan baik bahwa kita bisa meminjamkan uang, tetapi jumlahnya sangat terbatas (1b); atau kita tidak dapat meminjamkan uang lagi, tetapi kita bersedia berdiskusi, mencarikan ide, atau setidaknya menyediakan barang bekas untuk dijual, dll. (1c) 

Contoh (1b & 1c). Dulu ketika seseorang meminta bantuan, kita mungkin langsung membantu tanpa mempertimbangkan situasinya. Setelah beberapa kali, bantuan tersebut justru membuat orang itu semakin bergantung, kita tidak perlu berhenti peduli, Bro. Kita dapat mengubah jumlah (1b) dan bentuk bantuan (1c): bukan selalu menyelesaikan masalahnya, tetapi mendampingi agar ia mampu menyelesaikannya sendiri. Kebaikannya tetap sama, tetapi tujuannya menjadi lebih memberdayakan.

Oke Mas Bro.; prinsipnya, pengalaman kurang menyenangkan sebisa mungkin tidak membuat kita menjadi kurang baik; pengalaman kurang menyenangkan justru dapat membuat kita lebih bijaksana dalam berbuat baik.

Ketika cahaya pernah digunakan untuk menerangi jalan yang keliru, kita tidak perlu memadamkannya; kita hanya perlu belajar mengarahkan cahayanya dengan lebih tepat. 😇🙏

Sunday, June 21, 2026

09. Pilih mana Bro./Sis.: Pikiran Negatif, Pikiran Sia-sia, atau Pikiran Positif?

  

Seringkali, kita ngobrol tentang pikiran negatif vs. pikiran positif

Menurut brother and sister di BK Family, jenis pikiran sedaknya ada tiga, yaitu: (a) pikiran negatif, (b) pikiran sia-sia, dan (c) pikiran positif

Apa sih definisi, dampak, dan faktor dari ketiga jenis pikiran tersebut? 

Yuk kita simak…  

Pikiran negatif adalah pola pikir yang berisi penilaian buruk, prasangka, ketakutan, kemarahan, atau keyakinan yang melemahkan diri dan orang lain. Dampaknya dapat berupa meningkatnya emosi negatif, kecemasan, depresi, serta menurunnya motivasi dan kualitas relasi; faktor penyebabnya antara lain skema kognitif negatif, distorsi kognitif, pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, dan kebiasaan menafsirkan situasi sebagai ancaman (Beck et al., 1979)  

Pikiran sia-sia adalah pikiran yang berulang, tidak produktif, tidak menghasilkan solusi, dan hanya menghabiskan energi mental, seperti rumination, worry, atau repetitive negative thinking. Dampaknya adalah meningkatnya gejala kecemasan dan depresi serta berkurangnya fokus dan ketenangan batin; faktor penyebabnya antara lain kebiasaan mengulang kekhawatiran, kesulitan mengendalikan perhatian, ketidakpastian, dan regulasi emosi yang kurang efektif (Bell et al., 2022)

Pikiran positif adalah pola pikir yang berfokus pada harapan, solusi, pembelajaran, rasa syukur, dan penafsiran yang konstruktif terhadap pengalaman hidup. Dampaknya mencakup peningkatan kesejahteraan mental, coping yang lebih adaptif, kesehatan psikologis-fisik yang lebih baik, serta relasi sosial yang lebih sehat; faktor pendukungnya meliputi optimisme, rasa syukur, dukungan sosial, makna hidup, dan kebiasaan melihat peluang atau pelajaran dalam situasi sulit (Conversano et al., 2010).  

Berikut ini adalah contoh berbagai isi dan jenis pikiran, berdasarkan 12 nilai (respect, love, humble, happiness, freedom, cooperation, responsibility, unity, honesty, tolerance, simplicity, dan peace). 

Mudah-mudahan contoh isi dan jenis pikiran ini dapat membantu kita melakukan self-checking 🤗

(1) Respect

(a) Pikiran Negatif:
"Dia tidak pantas dihormati karena banyak kekurangannya."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Mengapa dia diperlakukan lebih baik daripada saya?"

(c) Pikiran Positif:
"Setiap jiwa memiliki nilai dan perannya sendiri dalam drama. Saya menghormati setiap jiwa sebagai makhluk ilahi."

=========

(2) Love

(a) Pikiran Negatif:
"Saya tidak peduli lagi dengan dia; biarkan saja dia susah."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Apakah dia masih menyukai saya atau tidak?"

(c) Pikiran Positif:
"Saya akan memberikan cinta tanpa syarat dan harapan baik kepada setiap jiwa."

=========

(3) Humility

(a) Pikiran Negatif:
"Tidak ada yang bisa bekerja sebaik saya."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Mengapa kontribusi saya tidak dipuji seperti orang lain?"

(c) Pikiran Positif:
"Semua kemampuan adalah karunia sang Pencipta; saya hanyalah instrumen pelayanan."

=========

(4) Happiness

(a) Pikiran Negatif:
"Saya tidak akan bisa bahagia selama masalah ini belum selesai."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu yang buruk?"

(c) Pikiran Positif:
"Kebahagiaan saya berasal dari hubungan dengan sang Sumber Pengetahuan, bukan dari situasi luar."

=========

(5) Freedom

(a) Pikiran Negatif:
"Saya tidak bisa berubah; memang beginilah saya."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Bagaimana kalau saya gagal? Bagaimana kalau orang lain tidak setuju?"

(c) Pikiran Positif:
"Saya adalah jiwa yang bebas dan mampu berubah dengan kekuatan yang Maha Kuasa, sang Sumber Energi."

=========

(6) Cooperation

(a) Pikiran Negatif:
"Saya tidak mau membantu karena itu bukan tugas saya."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Mengapa saya yang harus membantu? Mengapa bukan orang lain?"

(c) Pikiran Positif:
"Setiap kesempatan untuk membantu adalah kesempatan untuk melayani dan bertumbuh."

=========

(7) Responsibility

(a) Pikiran Negatif:
"Ini bukan kesalahan saya; orang lain yang menyebabkan masalah."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Nanti saja saya pikirkan; masih ada waktu."

(c) Pikiran Positif:
"Saya bertanggung jawab atas pikiran, kata, dan tindakan saya."

=========

(8) Unity

(a) Pikiran Negatif:
"Kelompok kami lebih baik daripada kelompok mereka."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Siapa yang paling berpengaruh di antara kita?"

(c) Pikiran Positif:
"Kita semua adalah satu keluarga yang bekerja untuk tujuan yang sama."

=========

(9) Honesty

(a) Pikiran Negatif:
"Kalau saya mengatakan yang sebenarnya, saya bisa rugi."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Mungkin tidak apa-apa kalau saya sedikit menyembunyikan fakta."

(c) Pikiran Positif:
"Kejujuran memberi kekuatan, kepercayaan, dan kedamaian batin."

=========

(10) Tolerance

(a) Pikiran Negatif:
"Saya tidak tahan dengan sifat orang itu."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Mengapa dia selalu seperti itu? Mengapa dia tidak berubah?"

(c) Pikiran Positif:
"Setiap jiwa sedang belajar; saya memilih untuk memahami dan tetap stabil."

=========

(11) Simplicity

(a) Pikiran Negatif:
"Saya harus terlihat lebih hebat daripada orang lain."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Apa yang akan dipikirkan orang jika saya tidak tampil sempurna?"

(c) Pikiran Positif:
"Saya cukup menjadi diri saya yang asli, sederhana, dan tulus."

=========

(12) Peace

(a) Pikiran Negatif:
"Saya tidak akan tenang sampai orang itu berubah."

(b) Pikiran Sia-sia:
"Bagaimana jika ini terjadi? Bagaimana jika itu terjadi? Bagaimana kalau semuanya salah?"

(c) Pikiran Positif
"Saya adalah jiwa yang damai; apa pun yang terjadi dalam drama, saya tetap tenang dan percaya kepada sang Penulis skenario kehidupan."

 

Apa isi dan jenis yang sering muncul di dalam pikiran kita?


Referensi:

Beck, A. T., Rush, A. J., Shaw, B. F., & Emery, G. (1979). Cognitive therapy of depression. Guilford Press. http://books.google.com/books/about/Cognitive_Therapy_of_Depression.html?id=i_MlAQAAIAAJ 

Bell, I. H., Pot-Kolder, R., Wood, S. J., Nelson, B., Acevedo, N., Stainton, A., Nicol, K., & Lim, M. H. (2022). The effect of psychological treatment on repetitive negative thinking: A meta-analysis. Clinical Psychology Review, 97, 102198. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9875014/

Conversano, C., Rotondo, A., Lensi, E., Della Vista, O., Arpone, F., & Reda, M. A. (2010). Optimism and its impact on mental and physical well-being. Clinical Practice and Epidemiology in Mental Health, 6, 25–29. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2894461/

 

Sunday, May 17, 2026

05 --> 01 & 10 --> 07. Kemarahan Bukan untuk Dilampiaskan, tetapi untuk Dipersembahkan

Dalam kehidupan sehari-hari, kemarahan dapat muncul dalam berbagai bentuk: dalam bentuk verbal (membentak, menyindir, berkata kasar); dalam bentuk fisik (membanting barang atau memukul meja); dalam bentuk nonverbal (diam berkepanjangan, wajah tegang, dan tatapan tajam); atau dalam bentuk relasional (menjauh, menyalahkan, menolak bekerja sama, atau melampiaskan emosi kepada orang lain). 

Kemarahan tidak hanya terjadi di tempat kerja; kemarahan dapat terjadi di rumah, di jalan, di mana pun, bahkan di dalam diri sendiri lho… Di tempat kerja, kemarahan dapat muncul ketika atasan merasa tidak dihargai, staf merasa dibebani dengan banyak beban kerja, rekan kerja merasa disalahpahami, atau rekan kerja sulit diajak bekerja sama. 

Di rumah, kemarahan dapat hadir melalui perbedaan aspirasi atau keinginan kakak/adik, ibu merasa kelelahan mengurus keluarga, perbedaan pandangan/ide antara pasangan, atau rasa kecewa terhadap salah satu anggota keluarga. 

Di jalan raya, kemarahan dapat muncul secara spontan ketika sang sopir menghadapi kemacetan, pengendara lain tidak tertib, pengendara lain memotong jalan tanpa memberi tanda (sign), sopir membuat penumpang merasa terancam; ataupun penumpang ingin buru-buru sampai di tempat tujuan. 

Nah, kemarahan juga dapat terjadi di dalam diri sendiri. Misalnya, saat kita merasa gagal, saat kita kecewa terhadap hal-hal yang sudah dilalui, terhadap keputusan yang diambil, atau terhadap ketidakmampuan menghadapi situasi/kondisi saat ini. 

Jadi, hati-hati ya Bro... kemarahan bisa muncul dalam bentuk apa pun, di mana pun, kapan pun.... nggak ada ampun...  

Kemarahan bukan sekadar persoalan kesal/kecewa terhadap “orang lain”, Bro./Sis., tetapi persoalan bagaimana kita memaknai situasi, mengelola harapan, strategi menghadapi tekanan, dan bagaimana kita memahami dunia persilatan (istilah yang sering disebutkan Prof. API 🤗) 

Bila tidak kita sadari, kemarahan dapat menguras energi, merusak relasi, dan membuat kondisi psikologis menjadi berat. 

Dengan disadari dan dikenali, kemarahan dapat dikelola dengan bijaksana, kemarahan akan dapat menjadi pengingat bahwa ada sesuatu dalam diri yang perlu dipahami, ditenangkan, dan disembuhkan.

Kemarahan bukan sekadar reaksi spontan terhadap orang lain atau keadaan luar, melainkan hasil dari "pikiran yang berulang-ulang", yang bersumber dari ego, harapan, atau luka lama

Pikiran berulang-ulang adalah kondisi di saat kita mengarahkan waktu dan energi untuk merespons situasi ego, atau waktu dan energi tidak diarahkan pada pengalaman/sensasi kedamaian. 

Contoh pikiran yang berpotensi diulang-ulang sehingga dapat membuat kita marah (mudah-mudahan contoh pikiran di bawah ini tidak kita alami ya Bro./Sis.):

  1. Mengapa dia selalu begitu kepada saya?”
  2. Kenapa saya tidak dihargai?”
  3. Saya sudah berusaha, tetapi tetap disalahkan.”
  4. Dia sengaja membuat saya kesal.”
  5.  “Saya tidak boleh kalah.”
  6.  “Saya harus membalas supaya dia tahu rasanya.”
  7.  “Selalu saya yang harus mengalah.”
  8.  “Tidak ada yang mengerti saya.”
  9.  “Ini tidak adil.”
  10.  “Kesalahan kecil saja dibesar-besarkan.”
  11.  “Dia tidak pernah mau berubah.”
  12.  “Saya selalu jadi korban.”
  13.  “Kalau saya diam, nanti dia makin semena-mena.”
  14.  “Saya harus menunjukkan bahwa saya benar.”
  15.  “Kenapa semuanya selalu dibebankan kepada saya?”

"Kita" sang Jiwa kadang tanpa kuasa untuk mengendalikan pikiran berulang-ulang tersebut. Pikiran yang berulang-ulang tersebut, secara mudah membuat kita menjadi marah; semudah kita menyalakan api, yang akhirnya justru membakar diri kita sendiri dan diri orang lain. 


Kalau sudah kebakaran, bagaimana? Bagaimana memadamkan api kemarahan?

Cara memadamkan api kemarahan adalah dengan metode S.O.S. 

S.O.S. adalah singkatan dari Standback, Observe, dan Steering (https://www.brahmakumaris.com/wisdom/soul-sustenance/eng/stand-back-observe-and-steer

Pertama Standback (Kode 05); adalah  kondisi pada saat kita mengambil jarak sejenak dari situasi yang memicu kemarahan. Ketika emosi mulai naik, seseorang jangan langsung membalas, membentak, menyalahkan, atau mengambil keputusan. Berhentilah sebentar, menarik napas, menenangkan tubuh, dan memberi ruang bagi pikiran untuk kembali jernih. Dengan standback, seseorang belajar bahwa ia tidak harus langsung mengikuti dorongan marah; ia masih memiliki pilihan untuk menunda reaksi dan menjaga kendali diri.

Kedua, Observe (Kode 01 & 10); adalah kondisi pada saat kita mengamati apa yang sedang terjadi, baik di luar diri maupun di dalam diri. Seseorang mulai bertanya secara tenang: “Apa peristiwa yang sebenarnya terjadi?”, “Apa yang saya rasakan?”, “Apa pikiran yang muncul?”, dan “Apa kebutuhan atau nilai yang sedang terganggu?” Pada tahap ini, kemarahan tidak langsung dianggap sebagai musuh, tetapi sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang perlu dipahami. Dengan mengamati, kita dapat menganalisis atau membedakan antara peristiwa/fakta dan tafsir (pikiran/perasaan/keinginan/nilai/kebutuhan); hasil analisis tersebut dapat meredakan pikiran reaktif, sehingga masalah tidak semakin besar.

Kegia, Steering (Kode 07), berarti mengarahkan kembali respons ke jalan yang lebih bijaksana (respons ability). Setelah mengambil jarak dan mengamati situasi, kita dapat memilih tindakan yang lebih tepat: berbicara dengan nada tenang, menyampaikan keberatan secara asertif, meminta waktu untuk berdiskusi, atau melepaskan hal yang tidak perlu diperdebatkan. Steering membantu kita mengubah energi marah menjadi tindakan yang konstruktif, bukan destruktif. 

Contoh pikiran untuk melakukan Steering pikiran --> Pikiran yang perlu diingat secara berulang-ulang (Cognitive Re-appraisal)

  1. Saya belum tahu seluruh alasan mengapa dia bersikap seperti itu.”
  2. Nilai diri saya tidak ditentukan oleh pengakuan orang lain.”
  3. Saya selalu berusaha; saya akan belajar memperbaiki yang perlu diperbaiki.”
  4. Mungkin dia tidak bermaksud membuat saya kesal; saya memahami situasi dan kondisi yang sedang dihadapinya.”
  5. Saya sudah sering menjadi pemenang; saat ini saatnya menemukan solusi.”
  6. Saya tidak perlu membalas dengan cara yang sama; saya akan merespons dengan tenang dan lebih terhormat/bermartabat.”
  7. Mengalah bukan berarti kalah; mengalah adalah tanda kedewasaan dan kendali diri.”
  8. Mungkin belum semua orang memahami saya; saya akan menjelaskan dengan pelan-pelan dan lebih jernih.”
  9. Situasi ini terasa tidak adil, tetapi saya dapat memahami dan menanggapinya dengan bijaksana.”
  10. “Saya tidak perlu membesar-besarkan masalah; saya akan fokus pada solusi / penyelesaian.”
  11. Perubahan membutuhkan waktu; saya akan mulai dari cara saya merespons.”
  12. Saya bukan korban; saya masih punya pilihan untuk bersikap dan bertindak.”
  13. Saya bisa menghadapi dengan tenang, tanpa harus marah.”
  14. Saya tidak harus membuktikan diri dengan emosi; kebenaran perlu disampaikan dengan damai; waktu akan membuktikannya.
  15. Saya bisa memilah mana yang menjadi tanggung jawab saya dan mana yang perlu dibicarakan bersama.
Demikian, metode S.O.S. semoga dapat membantu kita untuk tidak dikendalikan oleh kemarahan, tetapi menggunakan kesadaran untuk mengarahkan diri menuju ketenangan, kejelasan, dan penyelesaian yang lebih baik.


Lalu, setelah S.O.S. ngapain Bro.?

Setelah S.O.S. kita sedikit berwisata ke India... yuks...

Mas Bro. dan Mba' Sis., ternyata di India ada tradisi untuk mengatasi perasaan marah.... 

Di India, ada tradisi mempersembahkan “Uck flower” (Aak/Arka/Madar flower). Uck flower adalah bunga yang berasal dari tanaman liar, bergetah putih, pahit, ada unsur racun (toxic), dan dapat mengiritasi.  



Uck flower tidak lazim sebagai bunga persembahan. Uck flower bukan bunga yang indah seperti bunga mawar atau melati. Namun, anehnya... Uck flower malahan disakralkan dan justru dipersembahkan kepada Shiva, khususnya pada momen Shiv Ratri (Maha Shivaratri). Aneh kan Bro./Sis.?

Uck flower menjadi simbol kemarahan dan semua sifat buruk. Uck flower diibaratkan seperti kemarahan, yaitu sesuatu yang tidak harum, menciptakan duri dalam relasi, dan dapat “melukai” diri sendiri maupun orang lain. 

Dalam tradisi India, kita diminta untuk mempersembahkan Uck flower kepada Shiva; "Persembahkanlah kemarahanmu, sifat kasar dalam diri, kepada Shiva, bukan kepada orang lain..." 

Uck flower (Aak/Arka/Madar flower) menjadi bunga persembahan bagi Shiva karena getah putih seperti susu yang keluar dari daun Aak bersifat beracun. Getah itu memiliki kekuatan untuk merusak penglihatan. Segala sesuatu yang beracun diterima oleh Shiva. Shiva memiliki keistimewaan mengubah racun menjadi Amrut/Amrita, yaitu nektar (madu) atau sari kehidupan yang murni.

Secara filosofis, Getah Aak adalah simbol kemarahan atau sifat-sifat negatif manusia, yang dapat “membutakan” kejernihan batin. Kemarahan, ego, iri hati, dendam, dan pikiran sia-sia, dapat membuat jiwa manusia "buta". 

Ketika sang Jiwa dikuasai kemarahan, sang Jiwa tidak lagi melihat situasi secara jernih; pandangannya menjadi sempit, mudah menyalahkan, dan sulit membedakan antara fakta dan tafsir.  

Shiva adalah kekuatan ilahi yang mampu menerima, menetralkan, dan mentransformasi racun batin. Dalam tradisi spiritual, racun tidak dipersembahkan kepada manusia lain karena dapat melukai relasi; racun batin justru dipersembahkan kepada Shiva agar diubah menjadi Amrut (madu), yaitu kualitas yang menyejukkan, menyembuhkan, dan menghidupkan. 

Dengan kata lain, dalam tradisi India, persembahan Uck flower kepada Shiva adalah simbol:

  • bagaimana kemarahan (yang dapat membakar diri sendiri dan orang lain), diubah menjadi kesadaran
  • bagaimana ego diubah menjadi kerendahan hati
  • bagaimana luka batin diubah menjadi welas asih.

Demikian, saat kita mempersembahkan Uck flower (kemarahan, kekesalan, pikiran sia-sia, kecemburuan, dan semua sifat/perasaan negatif) kepada Shiva, bukan kepada orang lain; Shiva akan mengembalikannya kepada kita dalam bentuk madu murni atau dalam bentuk sifat sang Jiwa yang bersih, jernih, tidak reaktif, dan mampu memantulkan kualitas ilahi.

Di atas adalah CERITA tradisi di India, dalam rangka memadamkan Api Kemarahan. Bagaimana CERITA / tradisi di daerah kita, Bro./Sis.?

S.O.S.

Save Our Ships / Save Our Souls

Standback, Observe, Steering