Pagi ini, Ayah saya berpesan bahwa:
The Mind Is Like a Horse.
“The mind is said to be a horse, but you have the reins of shrimat.”
Kuda memiliki energi yang besar dan dapat bergerak sangat cepat. Persoalannya bukan pada seberapa kuat atau seberapa cepat kuda itu berlari, melainkan pada ke mana ia diarahkan.
Demikian pula pikiran. Pikiran memiliki energi yang dapat bergerak sangat cepat—mengingat masa lalu, membayangkan masa depan, menilai keadaan, merencanakan sesuatu, atau mencita-citakan berbagai kemungkinan. Karena itu, persoalan utamanya bukan pada seberapa banyak atau seberapa sering kita berpikir, melainkan pada ke mana pikiran kita diarahkan dan apa yang terus-menerus kita pikirkan, inginkan, serta cita-citakan.
Dalam kehidupan spiritual, shrimat dapat dipahami sebagai tali kekang (reins) yang mengarahkan energi pikiran. Dalam kehidupan sehari-hari, fungsi shrimat sebagai pedoman dapat dianalogikan dengan berbagai nilai (values), prinsip, atau pedoman hidup yang membantu kita menentukan arah.
Tali kekang tidak menghilangkan tenaga kuda; justru memungkinkan tenaga tersebut digunakan dengan lebih tepat. Demikian pula, nilai tidak dimaksudkan untuk melemahkan pikiran, tetapi untuk membantu memastikan bahwa kekuatan pikiran tidak membawa jiwa—sang pengendara— menuju waste thoughts, attachment, atau reactivity, melainkan menuju pikiran, pilihan, dan tindakan yang lebih bernilai.
Ngomong-ngomong—atau ngemeng-ngemeng 😄—ada sebuah cerita rakyat, Timun Mas, yang menurut saya bisa menjadi metafora yang menarik untuk memahami pesan Ayah.
Dalam cerita, Timun Mas harus melarikan diri dari raksasa yang hendak menangkapnya. Ia tentu mempunyai energi untuk berlari. Rasa takut bahkan dapat membuatnya bergerak semakin cepat. Namun, apabila Timun Mas hanya mengandalkan kecepatan tanpa arah dan petunjuk, belum tentu ia dapat menyelamatkan dirinya.
Sebelum menghadapi ancaman tersebut, Timun Mas telah dibekali sejumlah benda dan petunjuk tentang cara menggunakannya. Ketika sang raksasa semakin mendekat, benda-benda tersebut digunakan satu demi satu pada waktu yang tepat sehingga menjadi rintangan yang menghambat pengejarannya.
Di sinilah analoginya menjadi menarik. Kemampuan Timun Mas untuk berlari merupakan energi; sedangkan petunjuk mengenai apa yang harus dilakukan memberikan arah bagi penggunaan energi tersebut.
Jika kita kembali pada metafora kuda, Timun Mas mempunyai “kuda” berupa energi, keberanian, dan dorongan yang kuat untuk menyelamatkan dirinya. Namun, keselamatannya tidak hanya bergantung pada seberapa cepat ia berlari. Ia juga perlu mengingat petunjuk, mengenali situasi, dan menggunakan bekal yang dimilikinya secara tepat.
Begitu pula dengan pikiran manusia. Dalam keadaan tertekan, pikiran dapat bergerak jauh lebih cepat daripada biasanya. Ketika seseorang merasa terancam—seperti Timun Mas ketika menghadapi raksasa — karena menerima kritik, menghadapi konflik, kehilangan kesempatan, atau merasa diperlakukan tidak adil, pikirannya dapat dengan cepat menghasilkan berbagai kemungkinan respons: membalas, menghindar, menyalahkan, mempertahankan diri, atau mengambil keputusan secara terburu-buru.
Dalam keadaan seperti itu, energi pikiran bukanlah masalah utamanya. Nah, pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah kita masih mengingat nilai/prinsip yang hendak kita jadikan pedoman?
Timun Mas tidak berhenti berlari ketika ancaman datang. Ia juga tidak menyerah pada ketakutannya. Ia tetap bergerak, tetapi gerakannya diarahkan oleh petunjuk yang telah diterimanya. Inilah perbedaan penting antara sekadar bereaksi dan bertindak secara terarah.
Secara sederhana, alurnya dapat digambarkan sebagai berikut: (1) Ancaman → (2) muncul rasa takut → (3) energi untuk bergerak → (4) mengingat nilai/petunjuk → (5) memilih tindakan → (6) menggunakan sumber daya pada saat yang tepat.
Dalam kehidupan sehari-hari:
(1) Situasi sulit → (2) muncul emosi → (3) pikiran bergerak cepat → (4) berhenti sejenak (mengheningkan cipta) untuk mengingat nilai (values) → (5) tentukan arah / merencanakan tindakan → (6) baru bertindak.
Misalnya, ketika seseorang mengatakan sesuatu yang menyakitkan kepada kita, “kuda pikiran” mungkin langsung berlari menuju kemarahan: “Saya harus membalas supaya dia tahu!” Pada saat itulah nilai respect (01), love (02), responsibility (07), honesty (09), simplicity (11), dan nilai-nilai lainnya dapat berfungsi sebagai tali kekang yang membantu kita menentukan arah.
Saat kita berhenti sejenak untuk diam atau mengheningkan cipta, bukan berarti kita membiarkan kesalahan terjadi atau kehilangan ketegasan. Justru dalam ruang hening tersebut kita mengambil kembali posisi sebagai pengendara: menentukan arah respons sebelum energi pikiran berubah menjadi tindakan yang mungkin kemudian kita sesali.
Karena itu, pelajaran Timun Mas bukan sekadar, “Berlarilah secepat mungkin ketika menghadapi bahaya.” Pesannya adalah:
Ketika keadaan menjadi sulit, jangan hanya mengandalkan energi; ingatlah petunjuk atau nilai yang menentukan ke mana energi pikiran kita akan diarahkan.
Bro and Sis, kecerdasan membutuhkan values sebagai tali kekang, agar energi pikiran (kecerdasan) tidak berubah menjadi manipulasi. Keberanian membutuhkan kebijaksanaan, agar energi yang besar tidak berubah menjadi tindakan nekat atau kehilangan arah.
Timun Mas selamat bukan karena ia tidak merasa takut. Ia selamat karena, di tengah rasa takut, ia masih mampu mengingat apa yang harus dilakukan.
Demikian pula dengan kita, Bro. & Sis.:
Kekuatan memberi kita kemampuan untuk bergerak; nilai memberi kita kemampuan untuk bergerak ke arah yang benar.